Featured Video

Jumat, 19 Agustus 2011

Goreng Tempe Pakai Oli! Sekeluarga Tumbang Saat Buka Puasa


Goreng Tempe Pakai Oli! Sekeluarga Tumbang Saat Buka Puasa
Ist
Dikira Minyak Jelantah
ROSTINI mengaku dia menduga oli yang dia gunakan untuk menggoreng tempe adalah minyak jelantah.

"Saya menduga itu jelantah yang sengaja disimpan dalam botol agar bisa digunakan lagi. Makanya tanpa curiga langsung digunakan," ungkap Rostini saat ditemui di RSU Tasikmalaya, Kamis (18/8).

Sebelum menemukan oli yang dikira jelantah, kata Rostini, dia sempat berupaya mencari minyak goreng yang masih baru.
Musibah yang menimpa keluarga Ade tersebut merupakan sebuah potret kehidupan keluarga yang hidup pas-pasan. Ade yang sudah mulai renta selama ini bekerja sebagai buruh bangunan dan harus menghidupi seluruh anggota keluarganya. 
Suami Rostini dan Meti, berada di luar kota untuk mengadu nasib.

Pada hari Rostini memesak menggunakn oli, persediaan minnyak goreng di keluarga itu sudah habis. "Saya diberitahu itu bahwa minyak goreng sudah habis. Kemudian saya melihat ada botol yang saya kira berisi jelantah," ujarnya.

Anehnya, ujar Rostini, seluruh keluarga merasakan cita rasa goreng tempe tersebut tidak beda dengan tempe yang digoreng dengan menggunakan minyak sayur. Bahkan menurut Rostini dan Meti, tempe yang digoreng menggunakan oli rasanya lebih gurih. Namun selang satu jam, mereka mulai merasakan akibat menyantap tempe yang digoreng dengan oli itu. Mereka semua keracunan dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Mantan anggota DPR RI, Djadja Winatakusumah, mengatakan dirinya prihatin terhadap nasib keluarga Ade. "Walau musibah itu terjadi akibat kelalaian, namun itu merupakan sebuah potret kehidupan warga yang hidup serba kekurangan. Andai saja  minyak goreng yang baru ada di rumah itu, musibah di bulan suci Ramadan itu tidak akan terjadi. Pemerintah harus merenungkan kejadian ini," kata Djadja.
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Firman Suryaman
TRIBUNNEWS.COM, TASIKMALAYA - Akibat menggoreng tempe dengan menggunakan oli, sekeluarga warga Kampung Gunungpereng, Desa Cikunir, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, mengalami keracunan saat buka puasa, Rabu (17/8/2011) petang. Hingga Kamis (18/8/2011) enam korban masih dirawat di RSU Tasikmalaya.

Korban keracunan tempe yang digoreng dengan minyak oli itu adalah suami istri Ade (65) dan Mimih (55), serta tiga anak mereka Meti (35), Rostini (23) serta Nadya (16). Seorang anak balita anak Rostini yang bernama Nadya, juga ikut keracunan. Seluruh korban berhasil diselamatkan karena malam itu juga dilarikan ke RSU Tasikmalaya.
"Saat pertama kali makan, rasanya enak seperti biasa. Tapi kemudian kami merasa mual dan akhirnya muntah-muntah," kata Rostini saat ditemui di ruang transit UGD RSU Tasikmalaya, Kamis (18/8/2011).
Rostini bersama anggota keluarga lain termasuk Nadya, kondisinya sudah mulai membaik. Sementara Ade masih menjalani perawatan intensif karena diduga terlalu banyak makan tempe.
Rostini mengatakan sebelum berbuka puasa ia ditugasi ibunya untuk memasak. Termasuk menggoreng tempe yang sudah disediakan di dapur. Dia kemudian menuang cairan dari botol yang berisi oli ke dalam wajan. Menurut Rostini, dia mengira cairan dalam botol itu adalah minyak goreng.
"Saya sempat keheranan tidak biasa minyak goreng berbusa. Tapi karena tidak menimbulkan bau yang aneh, saya tidak mempedulikannya hingga tempe matang semuanya," ujar Rostini. Saat memasuki azan Magrib, kata Rostini, seisi rumah berbuka dan menikmati hidangan yang telah tersedia. Tak ketinggalan si kecil Nadya iktu menikmati tempe.
Namun sekitar satu jam selesai makan, mereka merasakan mual dan pusing-pusing. Tak lama mereka muntah-muntah. Sejumlah tetangga yang mengetahui peristiwa itu segera memberikan pertolongan. Mereka juga menemukan botol minyak goreng yang ternyata berisi oli. Setelah mendapat keterangan dari Rostini, warga memastikan keluarga tersebut keracunan oli.
"Belakangan diketahui oli tersebut milik famili saya. Ia mengaku teledor memasukkan oli ke dalam botol minyak goreng," kata Rostini.
Dr Asep Rudi yang menangani para pasien keracunan itu mengatakan bahan bakar maupun pelumas sifatnya memang racun. "Mereka masih menjalani perawatan dan terus meminum obat-obatan anti racun sebagai upaya penyembuhan," ujar Asep.
Mereka yang Keracunan
-Ade (65)
-Mimih (55)
-Meti (35)
-Rostini (23)
-Nadya (16)
-Nadya (2)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar