Ist
Dikira Minyak Jelantah
ROSTINI mengaku dia menduga oli yang dia gunakan untuk menggoreng tempe adalah minyak jelantah.
"Saya menduga itu jelantah yang sengaja disimpan dalam botol agar bisa digunakan lagi. Makanya tanpa curiga langsung digunakan," ungkap Rostini saat ditemui di RSU Tasikmalaya, Kamis (18/8).
Sebelum menemukan oli yang dikira jelantah, kata Rostini, dia sempat berupaya mencari minyak goreng yang masih baru.
Musibah yang menimpa keluarga Ade tersebut merupakan sebuah potret kehidupan keluarga yang hidup pas-pasan. Ade yang sudah mulai renta selama ini bekerja sebagai buruh bangunan dan harus menghidupi seluruh anggota keluarganya.
Suami Rostini dan Meti, berada di luar kota untuk mengadu nasib.
Pada hari Rostini memesak menggunakn oli, persediaan minnyak goreng di keluarga itu sudah habis. "Saya diberitahu itu bahwa minyak goreng sudah habis. Kemudian saya melihat ada botol yang saya kira berisi jelantah," ujarnya.
Anehnya, ujar Rostini, seluruh keluarga merasakan cita rasa goreng tempe tersebut tidak beda dengan tempe yang digoreng dengan menggunakan minyak sayur. Bahkan menurut Rostini dan Meti, tempe yang digoreng menggunakan oli rasanya lebih gurih. Namun selang satu jam, mereka mulai merasakan akibat menyantap tempe yang digoreng dengan oli itu. Mereka semua keracunan dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Mantan anggota DPR RI, Djadja Winatakusumah, mengatakan dirinya prihatin terhadap nasib keluarga Ade. "Walau musibah itu terjadi akibat kelalaian, namun itu merupakan sebuah potret kehidupan warga yang hidup serba kekurangan. Andai saja minyak goreng yang baru ada di rumah itu, musibah di bulan suci Ramadan itu tidak akan terjadi. Pemerintah harus merenungkan kejadian ini," kata Djadja.
"Saya menduga itu jelantah yang sengaja disimpan dalam botol agar bisa digunakan lagi. Makanya tanpa curiga langsung digunakan," ungkap Rostini saat ditemui di RSU Tasikmalaya, Kamis (18/8).
Sebelum menemukan oli yang dikira jelantah, kata Rostini, dia sempat berupaya mencari minyak goreng yang masih baru.
Musibah yang menimpa keluarga Ade tersebut merupakan sebuah potret kehidupan keluarga yang hidup pas-pasan. Ade yang sudah mulai renta selama ini bekerja sebagai buruh bangunan dan harus menghidupi seluruh anggota keluarganya.
Suami Rostini dan Meti, berada di luar kota untuk mengadu nasib.
Pada hari Rostini memesak menggunakn oli, persediaan minnyak goreng di keluarga itu sudah habis. "Saya diberitahu itu bahwa minyak goreng sudah habis. Kemudian saya melihat ada botol yang saya kira berisi jelantah," ujarnya.
Anehnya, ujar Rostini, seluruh keluarga merasakan cita rasa goreng tempe tersebut tidak beda dengan tempe yang digoreng dengan menggunakan minyak sayur. Bahkan menurut Rostini dan Meti, tempe yang digoreng menggunakan oli rasanya lebih gurih. Namun selang satu jam, mereka mulai merasakan akibat menyantap tempe yang digoreng dengan oli itu. Mereka semua keracunan dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Mantan anggota DPR RI, Djadja Winatakusumah, mengatakan dirinya prihatin terhadap nasib keluarga Ade. "Walau musibah itu terjadi akibat kelalaian, namun itu merupakan sebuah potret kehidupan warga yang hidup serba kekurangan. Andai saja minyak goreng yang baru ada di rumah itu, musibah di bulan suci Ramadan itu tidak akan terjadi. Pemerintah harus merenungkan kejadian ini," kata Djadja.
Berita Lainnya
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Firman Suryaman
TRIBUNNEWS.COM, TASIKMALAYA - Akibat menggoreng tempe dengan menggunakan oli, sekeluarga warga Kampung Gunungpereng, Desa Cikunir, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, mengalami keracunan saat buka puasa, Rabu (17/8/2011) petang. Hingga Kamis (18/8/2011) enam korban masih dirawat di RSU Tasikmalaya.